PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG KEPITING SEBAGAI BAHAN PENAMBAHAN PAKAN TERNAK BERKALSIUM TINGGI DALAM BENTUK MODERASI BERAGAMA Studi Lapangan Di Desa Pantai Beringin, Kec Sulamu Kab Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Alliffia Balqis Candharaning Ratri* -  , Indonesia

DOI : 10.22515/tranformatif.v2i1.3145

Penciptaan kepiting banyak ditemui di Desa Pantai Beringin, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dalam satu hari, Desa Pantai Beringin sanggup mengumpulkan kepiting sebanyak 200 kilogram, sebaliknya 150 kilogram ataupun 75% dari total seluruhnya merupakan cangkang. Cangkang kepiting yang tidak digunakan jadi limbah yang ditumpuk bertahun- tahun bahkan dibuang. Sementara itu desa ini mempunyai mesin penggiling cangkang kepiting, tetapi telah tidak beroperasi. Sementara itu, cangkang kepiting memiliki zat kitin sebanyak 70% sehingga sangat bagus digunakan bagaikan bahan dasar pembuatan pakan ternak. Kitin bagaikan feed addictive pula sanggup tingkatkan mutu gizi pakan ternak. Untuk memberdayakan warga dalam pemanfaatan cangkang, pendekatan yang digunakan merupakan ABCD (Asset Based Comminity- driven Development). Tata cara ini memakai peninggalan dari komunitas yang telah terdapat, dengan fokus isu utama pemanfaatan limbah cangkang kepiting. Hasil dari pengolahan ini diserahkan ke BUMDes beserta manajemen pemasarannya. Dengan keragaman agama yang ada di Desa Pantai Beringin tidak bisa lepas dari konflik yang bernuansa agama. Di Indonesia menunjukkan masih adanya individu atau kelompok yang belum bisa toleran. Salah satu modal sosial yang menjadi ciri khas yakni gotong-royong yang sejak lama melekat pada setiap lapisam masyarakat. Dengan ini dapat menghadapi tantangan perbedaan dengan mengedepankan kepentingan bersama. Karena cerminan moderasi beragama berakar dari nilai-nilai kebaikan pada masyarakat Desa Pantai Beringin, sehingga menjadikan sebuah pranata sosial yang dapat disebut sebagai kearifan lokal.

Keywords
BUMDes, Desa Pantai Beringin, Limbah, Cangkang Kepiting
  1. Christopher Dureau. (Agustus 2013). Pembaru dan kekuatan lokal untuk pembangunan, Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS).
  2. Departemen Agama RI Badan LITBANG dan Diklat Keagamaan. 2005. Meretas Wawasan dan Praksis Kerunukan Umat Beragama di Indonesia. Jakarta. Puslitbang Kehidupan Beragama.
  3. Kementerian Agama RI. 2019. Moderasi Beragama. Jakarta. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.
  4. Kementerian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Keagamaan. 2015. Pandangan Pemuka Agama Tentang Urgensi Pengaturan Hubungan Antarumat Beragama di Indonesia. Jakarta. Puslitbang Kehidupan Beragama.
  5. LP2M UIN Sunan Ampel Surabaya. (2015). Panduan KKN ABCD UIN Sunan Ampel Surabaya. Surabaya
  6. H.A.W Widjaja. 2010. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta. PT Bumi Aksara.
  7. Nurul Purnamasari, Badan Usaha Milik Desa (Dalam Akur Regulasi), Buton Pos, 13 Januari 2015.
  8. Rusydiyah E. F., Rahmawati, Farisia Hernik, et.all. 2018. Akselerasi Surabaya sebagai Kota Literasi melalui KKN Literasi Berbasis Pendekatan ABCD. Proceedings of Annual Conference on Community Engagement, 341-366.Retrieved from https://pdfs.semanticscholar.org/83be/12cd7139cfc340302b1bdd0411343abef99d.pdf

Article Info
Submitted: 2020-12-12
Published: 2021-06-09
Section: Articles
Article Statistics: 45